26 Des 2025·7 menit membaca

Migrasi dari Airtable ke PostgreSQL: pola terjemahan praktis

Pelajari cara migrasi dari Airtable ke PostgreSQL dengan menerjemahkan linked records, rollup, formula, dan izin menjadi model yang siap produksi.

Migrasi dari Airtable ke PostgreSQL: pola terjemahan praktis

Mengapa pola Airtable terasa berbeda di database produksi

Airtable bekerja baik ketika Anda butuh sesuatu yang terasa seperti spreadsheet, tapi dengan struktur. Masalah muncul saat base menjadi “sistem” dan lebih banyak orang bergantung padanya setiap hari. Susunan cerdas dari linked records, rollup, dan formula bisa berubah menjadi lambat, sulit dikendalikan, dan mudah terubah tanpa sengaja.

Aplikasi produksi berbasis PostgreSQL dibangun dengan ekspektasi berbeda. Data dibagikan. Aturan ditegakkan sepanjang waktu (bukan hanya di sebuah view). Perubahan harus dapat dilacak. Karena itu, “migrasi dari Airtable ke PostgreSQL” biasanya lebih soal menerjemahkan perilaku daripada menyalin tabel.

Penggunaan produksi biasanya berarti beberapa kebutuhan konkret:

  • Keandalan: aplikasi berperilaku sama untuk setiap pengguna, setiap saat.
  • Kontrol akses: orang hanya melihat dan mengedit apa yang mereka bolehkan.
  • Auditabilitas: Anda bisa menjawab “siapa mengubah apa, dan kapan?”
  • Performa pada skala: lebih banyak record dan pengguna tidak merusak pekerjaan harian.
  • Kepemilikan jelas: pembaruan terjadi lewat aturan aplikasi, bukan edit manual tersebar di view.

Di Airtable, banyak aturan bersifat “waktu-view.” Rollup menunjukkan total, formula menunjukkan nilai terhitung, dan filtered view menyembunyikan record. Di PostgreSQL, perilaku itu biasanya berubah menjadi relasi, query agregat, dan logika aplikasi yang dijalankan konsisten di mana pun pengguna berada.

Beberapa perilaku Airtable tidak akan cocok 1‑ke‑1. Field link yang “langsung berfungsi” mungkin berubah menjadi tabel join dengan aturan lebih ketat. Formula yang menggabungkan teks, tanggal, dan lookup bisa berubah menjadi ekspresi SQL, view database, atau logika backend.

Contoh sederhana: di Airtable, seorang manajer mungkin melihat “Total Pipeline” lewat rollup di sebuah view. Di aplikasi produksi, angka yang sama harus menghormati izin (deal mana yang boleh mereka lihat?), menyegarkan dengan prediktabel, dan bisa direproduksi dalam laporan.

Mulai dengan audit Airtable yang mencocokkan alur kerja nyata

Sebelum Anda migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, tuliskan bagaimana base benar-benar digunakan sehari-hari. Airtable sering bermula sebagai “spreadsheet hidup,” sehingga tabel yang sama bisa dipakai untuk pelaporan, approval, dan edit cepat sekaligus. Aplikasi berbasis database butuh aturan yang lebih jelas.

Inventarisir apa yang ada, termasuk bagian yang orang lupa, seperti view “sementara” dan skrip sekali jalan yang diam-diam menjaga semuanya berjalan.

  • Tabel (termasuk yang tersembunyi atau diarsipkan)
  • Views dan filter yang diandalkan tim (khususnya view “Pekerjaanku”)
  • Antarmuka, formulir, dan siapa yang menggunakan masing-masing
  • Automasi, skrip, dan integrasi
  • Rutinitas manual (copy/paste impor, pembersihan mingguan)

Selanjutnya, beri label pada field apakah itu sumber kebenaran atau turunan.

  • Field sumber kebenaran dimasukkan oleh manusia atau sistem tepercaya (email pelanggan, tanggal tanda tangan kontrak).
  • Field turunan adalah rollup, formula, lookup, dan flag status yang digerakkan oleh data lain.

Ini penting karena beberapa nilai turunan sebaiknya disimpan (untuk histori dan audit), sementara yang lain dihitung saat diperlukan.

Aturan berguna: jika orang perlu tahu “seperti apa nilainya saat itu” (mis. komisi saat deal ditutup), simpan nilainya. Jika hanya untuk tampilan (mis. “Hari sejak aktivitas terakhir”), hitung saat ditampilkan.

Catat titik sakit dengan bahasa sederhana. Contoh: “View Deals butuh 20 detik untuk muat,” “Manajer bisa melihat field gaji,” “Kita terus memperbaiki broken links setelah impor.” Ini menjadi kebutuhan nyata untuk izin, performa, dan pengecekan data di aplikasi baru.

Terjemahan model data: tabel, field, dan ID

Saat Anda migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, pergeseran pola pikir terbesar adalah bahwa database butuh aturan yang tetap benar walau label dan tata letak berubah. Airtable mentolerir “apa pun yang ada di sel hari ini.” PostgreSQL tidak boleh begitu.

Mulailah dengan menerjemahkan setiap tabel Airtable menjadi entitas nyata dengan primary key yang stabil. Jangan pakai nama manusia (mis. “Acme, Inc.”) sebagai ID. Nama berubah, salah eja, dan kadang bertabrakan. Gunakan ID internal (sering UUID atau ID numerik) dan simpan nama sebagai atribut yang bisa diedit.

Tipe field perlu ditinjau ulang karena tipe “number” dan “text” di Airtable bisa menyembunyikan perbedaan penting:

  • Jika field punya sekumpulan nilai kecil yang diketahui, perlakukan sebagai pilihan terkontrol (status, prioritas, tier).
  • Jika menyimpan uang, gunakan tipe numerik yang dirancang untuk operasi mata uang (dan tentukan mata uangnya).
  • Untuk waktu, putuskan antara date (tanpa waktu) dan timestamp (momen tepat).

Kosong juga butuh kebijakan jelas. Airtable sering mencampur “kosong,” “nol,” dan “tidak tahu” yang terlihat baik di grid. Di PostgreSQL Anda harus memutuskan arti tiap keadaan:

  • Gunakan NULL ketika “kita benar-benar belum tahu.”
  • Gunakan default saat “ada nilai normal” (mis. status = "new").
  • Konversi string kosong ke NULL ketika kosong benar-benar berarti “hilang.”
  • Pertahankan string kosong hanya ketika kosong berarti sesuatu.
  • Tambahkan pemeriksaan dasar (mis. amount >= 0) untuk menangkap impor buruk.

Terakhir, tambahkan beberapa index berdasarkan penggunaan nyata. Jika orang memfilter berdasarkan account, status, dan created date setiap hari, kolom-kolom itu kandidat bagus. Hindari indexing rumit sampai Anda punya data performa nyata, tapi jangan lewatkan yang jelas.

Contoh: tabel “Deals” bisa menjadi deals(id, account_id, stage, amount, close_date, created_at). Struktur itu tetap stabil terlepas dari UI yang Anda pasang di atasnya.

Airtable membuat relasi terasa sederhana: Anda tambahkan linked record field dan beres. Di PostgreSQL, Anda perlu memutuskan apa arti link itu.

Mulai dengan kardinalitas: apakah tiap record punya satu match atau banyak?

  • One-to-many: satu Company punya banyak Contacts, tapi tiap Contact milik satu Company.
  • Many-to-many: satu Contact bisa bekerja dengan banyak Deals, dan satu Deal bisa melibatkan banyak Contacts.

Di PostgreSQL:

  • Link one-to-many biasanya menjadi satu kolom di sisi “many” (mis. contacts.company_id).
  • Link many-to-many biasanya menjadi tabel join, seperti deal_contacts(deal_id, contact_id).

Tabel join itu juga bisa menyimpan detail ekstra yang sering diselipkan ke dalam relasi, seperti role_on_deal atau added_by.

Airtable akan membiarkan link berantakan dari waktu ke waktu. Di aplikasi berbasis database, Anda bisa mencegah itu dengan foreign key dan aturan delete yang jelas.

Putuskan:

  • Haruskah delete cascade, ditolak, atau set menjadi null?
  • Haruskah baris yatim diblokir (mis. deal_contacts tanpa deal atau contact yang valid)?

ID vs nama tampilan

Airtable menampilkan “primary field” yang ramah sebagai label link. PostgreSQL harus menyimpan kunci stabil (ID numerik atau UUID), dan aplikasi menampilkan nama ramah.

Pola praktis: simpan company_id di mana-mana, jaga companies.name (dan mungkin companies.code) untuk tampilan dan pencarian.

Rollups: dari matematika waktu-view ke agregat database

Kirim portal nyata dengan cepat
Buat portal pelanggan aman atau alat internal yang dapat diskalakan melampaui base bersama.
Bangun Sekarang

Di Airtable, rollup adalah “perhitungan di seluruh record terkait.” Terlihat seperti satu field, tapi sebenarnya ringkasan banyak baris: hitung, jumlah, min/max tanggal, rata-rata, atau daftar yang ditarik lewat link.

Di PostgreSQL, ide yang sama menjadi query agregat. Anda join tabel terkait, group by parent record, dan hitung total dengan fungsi bawaan. Saat Anda migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, rollup berhenti menjadi kolom seperti spreadsheet dan menjadi pertanyaan yang bisa dijawab database.

Menerjemahkan rollup umum ke pemikiran SQL

Polanya meliputi:

  • “Total invoice amount untuk pelanggan ini” -> SUM(amount) grouped by customer
  • “Jumlah tugas terbuka pada proyek ini” -> COUNT(*) dengan filter status
  • “Tanggal aktivitas terbaru” -> MAX(activity_date)
  • “Rata‑rata ukuran deal untuk rep ini” -> AVG(deal_value)

Rollup Airtable sering menyertakan filter seperti “hanya item Active” atau “hanya 30 hari terakhir.” Di database, itu menjadi klausa WHERE. Jelaskan zona waktu dan apa arti “30 hari terakhir,” karena pelaporan produksi sering dipertanyakan.

Rollup terhitung vs disimpan

Anda punya dua opsi:

  • Hitung rollup saat diminta (selalu segar, lebih mudah dipelihara).
  • Simpan rollup (layar lebih cepat, tapi harus terus diperbarui).

Aturan praktis: hitung untuk dashboard dan daftar; simpan hanya bila butuh kecepatan di skala atau snapshot stabil.

Formula: memutuskan apa yang menjadi SQL dan apa yang menjadi logika aplikasi

Saat Anda migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, formula sering butuh terjemahan paling hati-hati. Di Airtable, formula bisa diam-diam menggerakkan view, filter, dan alur kerja sekaligus. Di aplikasi produksi, Anda ingin hasil yang konsisten, cepat, dan identik di semua layar.

Sortir formula berdasarkan apa yang sebenarnya mereka lakukan:

  • Formatting: mengubah nilai menjadi label seperti "Q1 2026" atau "Prioritas Tinggi"
  • Flag kondisional: cek TRUE/FALSE seperti "Terlambat" atau "Perlu review"
  • Perhitungan: total, margin, selisih tanggal, skor
  • Lookup: mengambil nilai lintas linked records
  • Aturan bisnis: apa pun yang mengubah apa yang boleh dilakukan pengguna (kelayakan, persetujuan)

Perhitungan sederhana dan flag sering cocok di SQL (ekspresi query, view, atau computed fields). Itu menjaga konsistensi di semua layar dan menghindari implementasi ulang rumus yang sama di banyak tempat.

Jika sebuah formula sebenarnya adalah aturan (mis. "Diskon hanya diizinkan jika akun aktif dan deal di atas $5.000"), biasanya pindahkan ke logika backend. Dengan begitu rule tidak bisa dilangkahi oleh klien lain, impor CSV, atau laporan baru.

Jaga formatting dekat dengan UI. Label tampilan bisa dibentuk di web dan antarmuka mobile tanpa mengunci rumus ke database.

Sebelum finalisasi, pilih beberapa output yang harus selalu cocok (mis. Status, Amount Due, SLA Breach) dan tentukan di mana mereka disimpan. Lalu uji dari setiap klien agar angka yang dilihat seseorang di aplikasi cocok dengan yang diekspor ke finance.

Rancangan ulang izin: peran, akses record, dan jejak audit

Rancang skema Postgres yang rapi
Modelkan tabel Anda di Data Designer AppMaster dan jaga ID stabil sejak hari pertama.
Mulai Membangun

Izin di Airtable sering terasa sederhana karena kebanyakan berbasis base, tabel, dan view. Di aplikasi produksi, itu jarang cukup. View berguna untuk alur, tapi bukan boundary keamanan. Saat Anda migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, perlakukan setiap keputusan "siapa bisa melihat ini?" sebagai aturan akses yang ditegakkan di mana-mana: API, UI, ekspor, dan background job.

Mulailah dengan daftar peran yang dibutuhkan aplikasi Anda, bukan tab yang diklik orang. Set tipikal:

  • Admin: mengelola pengaturan, pengguna, dan seluruh data
  • Manager: menyetujui perubahan dan melihat pekerjaan tim mereka
  • Staff: membuat dan memperbarui record yang ditugaskan, pelaporan terbatas
  • Customer: melihat permintaan, invoice, atau status mereka sendiri

Lalu definisikan aturan akses per-record (row-level). Banyak aplikasi nyata menyederhana menjadi pola: “hanya record saya,” “tim saya,” atau “organisasi saya.” Apakah Anda menegakkannya di database (row-level security) atau di lapisan API, kuncinya adalah konsistensi: setiap query membutuhkan aturan itu, termasuk ekspor dan layar “tersembunyi.”

Rencanakan auditing sejak hari pertama. Putuskan apa yang harus dicatat untuk setiap perubahan:

  • Siapa yang melakukannya (user ID, peran)
  • Apa yang berubah (field-level before/after bila perlu)
  • Kapan terjadi (timestamp dan timezone)
  • Dari mana datangnya (UI, impor, API)
  • Mengapa (catatan opsional atau kode alasan)

Rencana migrasi langkah demi langkah yang menghindari kejutan

Migrasi paling aman terasa membosankan. Anda pilih tanggal, kurangi bagian yang bergerak, dan buat mudah membandingkan base lama dengan aplikasi baru.

Seminggu sebelum pemindahan, hentikan churn skema. Sepakati tanggal cutover dan atur aturan: tidak ada tabel baru, tidak ada field baru, tidak ada penggantian nama field. Perubahan kecil bisa merusak impor dan formula dengan cara yang tersembunyi.

Rencana lima langkah sederhana:

  1. Bekukan struktur dan definisikan apa arti “selesai” (layar, alur kerja, dan laporan mana yang harus cocok).
  2. Ekspor data dan bersihkan di luar Airtable. Normalisasi multi-select, pisahkan field gabungan, dan buat ID stabil agar link tetap utuh.
  3. Buat skema PostgreSQL, lalu impor secara bertahap dengan pemeriksaan. Validasi hitungan baris, field wajib, keunikan, dan foreign keys.
  4. Bangun ulang yang penting untuk sehari-hari terlebih dulu: layar beberapa yang dipakai setiap hari, plus alur create/update.
  5. Jalankan paralel untuk jangka pendek, lalu cut over. Siapkan rencana rollback: akses read-only ke Airtable, snapshot PostgreSQL sebelum cutover, dan aturan berhenti jelas jika terjadi mismatch kritis.

Contoh: untuk base sales ops, jalankan kedua sistem seminggu. Sales reps mencatat aktivitas di aplikasi baru, tapi tim membandingkan total pipeline dengan Airtable setiap pagi sampai angkanya cocok konsisten.

Kualitas data dan pengujian: buktikan aplikasi baru cocok dengan kenyataan

Tambahkan jejak audit sejak awal
Lacak siapa mengubah apa dan kapan, termasuk edit dari UI, API, dan impor.
Tambahkan Audit

Kebanyakan bug migrasi bukan “bug PostgreSQL.” Mereka mismatch antara maksud Airtable dan apa yang disimpan oleh tabel baru. Perlakukan pengujian sebagai bagian dari pekerjaan data, bukan tugas di menit terakhir.

Simpan lembar pemetaan sederhana. Untuk setiap field Airtable, tulis kolom Postgres target dan di mana digunakan di aplikasi (layar, laporan, aturan status). Ini mencegah terjadinya “kami mengimpornya” berubah menjadi “kami tidak pernah menggunakannya.”

Mulai dengan cek kesehatan cepat:

  • Bandingkan hitungan baris per tabel sebelum dan setelah impor.
  • Periksa link yang hilang (foreign keys yang mengarah ke mana pun).
  • Temukan duplikat di nilai yang sebelumnya “unik dalam praktik” (email, deal ID).
  • Temukan field wajib kosong yang diizinkan oleh form Airtable.

Lalu validasi perhitungan yang diandalkan orang. Pilih record nyata dan verifikasi total, status, dan rollup terhadap contoh yang diketahui. Di sinilah pengganti formula sering bergeser, karena blank, nol, dan linked record yang hilang berperilaku berbeda.

Terakhir, uji kasus tepi secara sengaja: kosong, link terhapus, teks panjang, karakter tak biasa, dan pemecah baris. Nama seperti "O'Neil" dan catatan berbaris banyak sering jadi sumber masalah impor dan tampilan.

Perangkap umum saat menerjemahkan Airtable ke PostgreSQL

Otomatkan persetujuan dan pembaruan
Ganti automasi Airtable dengan proses jelas di Visual Business Process Editor.
Otomatiskan

Perangkap terbesar adalah memperlakukan base Airtable seperti ekspor database sederhana. Airtable mencampur penyimpanan, logika view, formula, dan aturan sharing. PostgreSQL memisahkan kekhawatiran itu, yang lebih sehat di produksi, tapi memaksa Anda memilih di mana setiap perilaku ditempatkan.

Linked records adalah contoh klasik. Banyak tim mengira setiap link adalah one-to-many karena terlihat seperti satu field. Dalam praktiknya, banyak link Airtable adalah many-to-many. Jika Anda memodelkannya sebagai foreign key tunggal, Anda diam-diam kehilangan relasi dan berakhir dengan solusi sementara.

Rollup bisa menimbulkan masalah lain. Jika Anda mengimpor angka rollup saat ini sebagai kebenaran final, Anda juga harus menangkap cara perhitungannya. Kalau tidak, Anda tidak bisa menjelaskan kenapa angka berubah nanti. Lebih baik gunakan agregat yang dapat dihitung ulang (SUM/COUNT) dengan definisi jelas, dan tentukan apakah perlu caching dan bagaimana pembaruannya.

View juga bisa menyesatkan. Tim kadang merekonstruksi view Airtable sebagai filter tetap di aplikasi baru, lalu menemukan view itu sebenarnya workflow personal, bukan persyaratan bersama. Sebelum mengunci filter, tanyakan siapa yang memakai view, tindakan apa yang mereka ambil selanjutnya, dan apakah mereka butuh saved filter, segment, atau dashboard.

Checklist perangkap cepat:

  • Status teks bebas (“In progress”, “in-progress”, “IP”) tanpa pembersihan dan nilai terkontrol
  • Rollup diimpor sebagai jawaban final tanpa definisi atau rencana rekalkulasi
  • Field link dimodelkan tanpa tabel join saat relasi sebenarnya many-to-many
  • Views dibangun ulang sebagai layar tetap tanpa konfirmasi intent pengguna
  • Izin ditambahkan terakhir, memaksa penulisan ulang yang menyakitkan

Skenario contoh: base sales ops dibangun ulang sebagai aplikasi nyata

Bayangkan base Sales Ops di Airtable dengan empat tabel: Accounts, Deals, Activities, dan Owners (reps dan manajer). Di Airtable, sebuah Deal ter-link ke satu Account dan satu Owner, dan Activities link ke Deal (panggilan, email, demo).

Di PostgreSQL, ini menjadi set relasi yang jelas: deals.account_id menunjuk accounts.id, deals.owner_id menunjuk owners.id, dan activities.deal_id menunjuk deals.id. Jika Anda juga butuh banyak owner per deal (rep + sales engineer), tambahkan tabel join seperti deal_owners.

Metik umum di Airtable adalah “Deal Value rollup by Account” (jumlah nilai deal yang terlink). Di aplikasi berbasis database, rollup itu menjadi query agregat yang bisa dijalankan on demand, di-cache, atau dimaterialisasi:

SELECT a.id, a.name,
       COALESCE(SUM(d.amount), 0) AS total_pipeline
FROM accounts a
LEFT JOIN deals d ON d.account_id = a.id
              AND d.stage NOT IN ('Closed Won', 'Closed Lost')
GROUP BY a.id, a.name;

Sekarang pertimbangkan “Health score” formula. Di Airtable sering tergoda memasukkan semuanya ke satu field. Untuk produksi, simpan input dan buat auditable (last_activity_at, next_step_date, open_deal_count, overdue_tasks_count). Lalu hitung health_score di logika backend sehingga Anda bisa mengubah aturan tanpa menulis ulang record lama. Anda tetap bisa menyimpan skor terbaru untuk filter dan pelaporan.

Izin biasanya perlu pemikiran ulang terbesar. Alih-alih filter view, definisikan aturan akses eksplisit:

  • Reps bisa melihat dan mengedit hanya deals dan activities milik mereka.
  • Managers bisa melihat deals tim mereka.
  • Finance bisa melihat revenue closed-won, tapi bukan catatan privat.
  • Sales Ops bisa mengelola stages dan aturan scoring.

Checklist cepat sebelum Anda merilis aplikasi PostgreSQL baru

Bangun rollup dengan benar
Buat ulang rollup sebagai agregat andal yang menghormati filter, izin, dan kebutuhan pelaporan.
Bangun Dashboard

Sebelum go-live, lakukan satu pemeriksaan terakhir untuk memastikan “nuansa Airtable” telah diterjemahkan menjadi sesuatu yang stabil, dapat diuji, dan aman. Di sinilah gap kecil berubah menjadi insiden nyata.

Jika Anda mencoba migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, fokus pada apa yang Airtable dulu “tangani diam-diam” untuk Anda: relasi, nilai terhitung, dan siapa yang bisa melihat atau mengubah apa.

Pemeriksaan pra-peluncuran yang menangkap kebanyakan kejutan

  • Relasi: setiap linked record sebelumnya punya tipe relasi eksplisit (one-to-many, many-to-many) dan strategi kunci jelas (ID stabil, constraint unik, dan aturan delete).
  • Agregat: Anda menandai total mana yang harus selalu benar (invoice, kuota, kelayakan) vs yang bisa sedikit terlambat (dashboard).
  • Logika keputusan: setiap formula yang mengubah hasil (approval, pricing, komisi, kelayakan) diimplementasikan dan diuji di tempat yang tepat.
  • Izin: untuk tiap peran, Anda menjalankan user story nyata end-to-end (create, edit, export, delete, approve) dan mengonfirmasi akses per-record.
  • Kepemilikan dan deployment: Anda memutuskan siapa yang mengelola perubahan skema, siapa meninjau perubahan logika, bagaimana rollback bekerja, dan di mana aplikasi dijalankan.

Pemeriksaan realitas: jika seorang sales rep bisa mengedit “Account Tier” di Airtable dan tier itu mengatur diskon, Anda kemungkinan butuh perubahan izin (hanya manager yang bisa edit) dan jejak audit yang merekam siapa mengubahnya dan kapan.

Langkah selanjutnya: bangun, luncurkan, dan terus perbaiki

Setelah migrasi dari Airtable ke PostgreSQL, risiko terbesar adalah mencoba membangun semuanya sekaligus. Mulailah dengan pilot yang menjalankan satu alur kerja nyata end-to-end dengan pengguna nyata. Pilih sesuatu yang bisa diukur, seperti “create record - approve - notify - report,” dan jaga ruang lingkupnya sempit.

Perlakukan pilot seperti produk. Tuliskan data model baru dan aturan izin dengan bahasa sederhana agar pemilik non-teknis bisa menjawab dua pertanyaan cepat: “Dari mana nilai ini berasal?” dan “Siapa yang bisa melihat atau mengubahnya?”

Jaga dokumentasi ringan. Kebanyakan tim cukup dengan:

  • Tabel kunci dan apa yang diwakili masing-masing
  • Relasi penting (dan apa yang harus dilakukan saat delete/archive)
  • Field mana yang terkomputasi (SQL vs logika aplikasi) dan kenapa
  • Peran, aturan akses per-record, dan siapa yang memberikan akses
  • Ekspektasi audit (apa yang harus dicatat)

Jika Anda ingin bergerak cepat tanpa membangun semuanya sendiri, platform no-code bisa bekerja selama ia menghasilkan backend nyata dan menegakkan aturan secara konsisten. Contohnya, AppMaster (appmaster.io) dirancang untuk membangun aplikasi berbasis PostgreSQL dengan logika bisnis dan akses berbasis peran sambil tetap menghasilkan kode sumber produksi.

Rilis bertahap agar orang bisa beralih dengan aman: pilot pada satu tim, jalankan paralel singkat, cutover terencana dengan rencana rollback, lalu perluas workflow demi workflow.

FAQ

Apa yang harus saya lakukan pertama kali sebelum migrasi dari Airtable ke PostgreSQL?

Mulailah dengan mencatat apa yang sebenarnya dilakukan base Airtable Anda, bukan hanya tabel yang ada. Perhatikan khususnya view, antarmuka, automasi, skrip, dan rutinitas manual berulang, karena biasanya di situ tersimpan “aturan” nyata yang harus ditegakkan secara konsisten oleh aplikasi berbasis PostgreSQL.

Apa perubahan pola pikir terbesar saat pindah dari Airtable ke PostgreSQL?

Ubah cara berpikir: anggap tabel sebagai entitas stabil dengan primary key yang nyata, dan perlakukan relasi sebagai constraint eksplisit yang harus berlaku di mana saja. Ganti filosofi “apa pun yang ada di sel” dengan tipe data, default, dan pemeriksaan yang jelas agar data buruk tidak masuk diam-diam saat impor atau pengeditan kemudian.

Haruskah saya menggunakan primary field Airtable sebagai ID di PostgreSQL?

Jangan pakai nama sebagai identifier karena nama bisa berubah, bentrok, atau salah eja. Gunakan ID internal (sering UUID atau numeric ID) sebagai primary key, dan simpan nama sebagai atribut yang bisa diedit untuk tampilan dan pencarian.

Bagaimana cara menerjemahkan "linked records" di Airtable ke tabel PostgreSQL?

Tentukan apakah setiap link adalah one-to-many atau many-to-many berdasarkan penggunaan sebenarnya. One-to-many biasanya menjadi kolom foreign key, sedangkan many-to-many menjadi tabel join yang juga bisa menyimpan detail relasi seperti peran atau tanggal penambahan.

Bagaimana cara mencegah link rusak setelah migrasi?

Tambahkan foreign key sehingga database bisa mencegah link rusak dan menegakkan perilaku konsisten. Lalu tentukan kebijakan delete secara sadar: apakah delete parent akan cascade (hapus anak), ditolak, atau mengubah referensi menjadi NULL sesuai kebutuhan alur kerja Anda.

Apa padanan PostgreSQL untuk rollup di Airtable?

Anggap rollup sebagai pertanyaan yang dijawab database dengan query agregat, bukan sebagai kolom seperti spreadsheet. Secara default, komputasi on-demand memastikan kebenaran; hanya simpan atau cache rollup jika Anda punya alasan performa yang jelas dan mekanisme pembaruan yang andal.

Bagaimana saya memutuskan apakah formula Airtable menjadi SQL atau logika backend?

Kelompokkan formula menurut tujuannya: formatting tampilan, perhitungan sederhana, flag, lookup, dan aturan bisnis. Biarkan formatting di UI, taruh perhitungan sederhana di SQL bila harus konsisten di mana-mana, dan pindahkan logika yang berperan sebagai aturan ke backend agar tidak bisa dilangkahi oleh impor atau klien lain.

Mengapa saya tidak bisa sekadar mereplikasi view Airtable sebagai izin di aplikasi baru?

View berguna untuk alur kerja, tapi bukan boundary keamanan. Definisikan peran dan aturan akses per-record secara eksplisit, lalu tegakkan di API, UI, ekspor, dan job background. Tambahkan auditing sehingga Anda bisa menjawab siapa mengubah apa dan kapan.

Apa rencana migrasi yang aman untuk menghindari kejutan?

Bekukan skema sebelum cutover, ekspor dan bersihkan data, lalu impor dengan validasi seperti required fields, uniqueness, dan foreign keys. Jalankan kedua sistem secara paralel sebentar dengan metode perbandingan angka kunci, dan siapkan rencana rollback seperti akses Airtable read-only dan snapshot database.

Apakah alat no-code bisa membantu membangun aplikasi PostgreSQL lebih cepat?

Jika Anda ingin cepat tanpa menulis semuanya dari nol, pilih platform no-code yang benar-benar menghasilkan backend nyata dan menegakkan aturan, bukan sekadar UI di atas penyimpanan seperti spreadsheet. AppMaster (appmaster.io) adalah satu opsi yang membangun aplikasi berbasis PostgreSQL dengan logika bisnis dan akses berbasis peran sambil menghasilkan kode sumber produksi.

Mudah untuk memulai
Ciptakan sesuatu yang menakjubkan

Eksperimen dengan AppMaster dengan paket gratis.
Saat Anda siap, Anda dapat memilih langganan yang tepat.

Memulai
Migrasi dari Airtable ke PostgreSQL: pola terjemahan praktis | AppMaster